Konsep Belajar Mengajar
dengan CTL
Pragmatisme adalah
suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan
dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini menganggap benar pada sesuatu jika memiliki
nilai praktis. Hal apapun bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar jika
memberi kemanfaatan yang bersifat praktis, baik itu mimpi, hal mistis, dan
pengalaman pribadi.
Dari pengertian
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebenaran bersifat relatif tidak mutlak.
Efeknya adalah sifat individualitas dari para pelakunya.
Riwayat John Dewey
John Dewey adalah
seorang filsuf dari Amerika, pendidik dan pengkritik sosial yang lahir di
Burlington, Vermont dalam tahun 1859. Dewey kecil adalah seorang yang gemar
membaca namun tidak menjadi seorang siswa yang brilian di antara teman-temannya
ketika itu. Ia masuk ke Universitas Vermont dalam tahun 1875 dan mendapatkan
gelar B.A. Ia kemudian melanjutkan kuliahnya di Universitas Jons Hopkins, di
mana dalam tahun 1884 ia meraih gelar doktornya dalam bidang filsafat di
universitas tersebut. Di universitas terakhir ini, Dewey pernah mengikuti
kuliah logika dari Pierce, orang yang menggagas munculnya pragmatisme. Walaupun
demikian, pengaruh terbesar darang dari guru dan sahabatnya G.S. Morris,
seorang idealis.
Dari tahun 1884 samai
1888, Dewey mengajar pada Universitas Michigan dalam bidang filsafat. Tahun
1889 ia pindah ke Universitas Minnesota. Akan tetapi pada akhir tahun yang
sama, ia pindah ke Universitas Michigan dan menjadi kepala bidang filsafat.
Tugas ini dijalankan sampai tahun 1894, ketika ia pindah ke Universitas Chicago
yang membawa banyak pengaruh pada pandangan-pandangannya tentang pendidikan
sekolah di kemudian hari. Ia menjabat sebagai pemimpin departemen filsafat dari
tahun 1894-1904 di universitas ini. Ia kemudian mendirikan Laboratory School
yang kelak dikenal dengan nama The Dewey School. Di pusat penelitian
ini ia pun memulai penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan
mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya,
ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan
kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya
kreativitas dan keterlibatan murid dalam diskusi dan pemecahan masalah. Selama
periode ini pula ia perlahan-lahan meninggalkan gaya pemikiran idealisme yang
telah mempengaruhi sejak pertemuan dengan Morris. Jadi selain menekuni
pendidikan, ia juga menukuni bidang logika, psikologi dan etika.
Pengalaman Dewey
tidak hanya berhenti sampai di Universitas Chicago. Terakhir ia berkarya
sebagai dosen di Universitas Colombia dalam tahun 1904. Di universitas ini,
Dewey berkarya sebagai seorang profesor filsafat sampai ia pensiun pada tahun
1929. Dalam periode ini, Dewey banyak mengadakan perjalanan antara lain ke
negara-negara Eropa serta Jepang, Cina, Meksiko, dan Rusia. Di Jepang,
misalnya, ia memberikan kuliah-kuliah dalam bentuk ceramah yang kemudian akan
menjadi dasar pengembangan filsafat rekunstruksinya. Dalam tahun 1924, ia juga
berkunjug ke Turky untuk mengadakan rekunstruksi terhadap sistem pendidikan yang
dijalankan di sana. Hal yang sama juga dilakukan dalam kunjugannya ke Meksiko
dan Rusia dalam tahun 1928.
Sejak ia berhenti
dari universitas Colombia, ia aktif dalam pengembangan filsafat dan melanjutkan
karya-karya dokrinnya. Dengan pelbagai usaha dan kerja yang dilakukannya selama
masih bekerja di universitas-universitas maupun setelah itu, ia kemudian
dikenal sebagai seorang yang mengembangkan filsafat secara baru di Amerika.
Pemikirannya banyak mempengaruhi perkembangan filsafat, politik, pendidikan,
religiusitas dan kesenian di Amerika.
Pemikiran Pragmatisme John Dewey
Dewey lebih menamakan teori
pragmatismenya dengan sebutan instrumentalisme, karena menurutnya
tugas filsafat ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi pembuatan
dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu filsafat tidak boleh
tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tiada
faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience) dan menyelidiki
serta mengolah pengalaman itu decara aktif-kritis.
Dewey menggunakan metode yang menarik,
yaitu menggabungkan antara cara berpikir induktif dan deduktif, metode antara
lain
·
The Felt Need (adanya suatu
kebutuhan)Seseorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaanya
sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.
- The Problem (menetapkan masalah)Dari kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need diatas, diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan (kebutuhan). Penemuan terhadap kebutuhan dan masalah boleh dikatakan parameter yang sangat penting dan menentukan kualitas penelitian. Studi literatur, diskusi, dan pembimbingan dilakukan sebenarnya untuk men-define kebutuhan dan masalah yang akan diteliti.
- The Hypothesis (menyusun hipotesis)Jawaban atau pemecahan masalah sementara yang masih merupakan dugaan yang dihasilkan misalnya dari pengalaman, teori dan hukum yang ada.
- Collection of Data as Avidance (merekam data untuk pembuktian)Membuktikan hipotesis dengan eksperimen, pengujian dan merekam data di lapangan. Data-data dihubungkan satu dengan yang lain untuk ditemukan kaitannya. Proses ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis.
- Concluding Belief (kesimpulan yang diyakini kebenarannya)Berdasarkan analisis yang dilakukan pada tahap ke-4, dibuatlah sebuah kesmpulan yang diyakini mengandung kebenaran, khususnya untuk kasus yang diuji.
- General Value of the Conclusion (memformulasikan kesimpulan umum)Kesimpulan yang dihasilkan tidak hanya berlaku untuk kasus tertentu, tetapi merupakan kesimpulan (bisa berupa teori, konsep dan metode) yang bisa berlaku secara umum, untuk kasus lain yang memiliki kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan diatas.
Pengertian CTL
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context
yang berarti ”hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks) ” (KUBI, 2002 :
519). Sehingga Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan
sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara
umum contextual mengandung arti : Yang berkenan, relevan, ada hubungan
atau kaitan langsung, mengikuti konteks; Yang membawa maksud, makna, dan
kepentingan.
Adapun
pengertian CTL menurut Depdiknas (2003:5) adalah sebagai berikut :
”Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka
sehari–hari”.
Pendekatan CTL diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalaminya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa
manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar
bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya nanti. Dari uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran CTL guru hendaknya memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan
mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan
strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa tangga
yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun
harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.
1. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran
CTL
CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada
proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dari konsep diatas
terdapat tiga hal yang harus kita pahami :
1) CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan
materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara
langsung.
2) CTL mendorong agar siswa
dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan
dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja
bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang
dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah
dilupakan.
3)
CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL
bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan
tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam
kehidupan sehari – hari. (Depdiknas, 2003:6)
Sehubungan dengan hal itu, Terdapat beberapa karakteristik
dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL yakni :
a. Kerjasama
b. Saling menunjang
c. Menyenangkan, tidak membosankan
d. Belajar dengan bergairah
e. Pembelajaran terintegrasi
f. Menggunakan berbagai sumber
g. Siswa aktif
h. Sharing dengan teman
i. Siswa kritis guru kreatif
j. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa,
peta- peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
k. Laporan kepada orang tua bukan hanya
rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum,
karangan siswa dan lain-lain. (Depdiknas, 2003:7)
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning
/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. CTL dapat merangsang siswa belajar
aktif, dapat menimbulkan motivasi pada siswa untuk belajar, belajar berpikir
kritis, melatih siswa untuk berkomunikasi, membantu siswa dalam mempertajam
pelajarannya, melatih siswa percaya diri, dan lain sebagainya. Pembelajaran
kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari-hari. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan
lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru
ke siswa.
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran
bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar
akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti
berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali
anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dalam kelas
kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya,
guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas
guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
2.
Asas–Asas CTL
a. Konstruktivisme
Pengertian konstruktivisme menurut Wina Sanjaya (2006:12)
adalah “Proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif
siswa berdasarkan pengalaman”. Menurut pengembang filsafat konstruktivisme Mark
Baldwin dan diperdalam oleh Jean Piaget dalam Wina Sanjaya (2006:13)
menyatakan bahwa “Pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata,
tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek
yang diamatinya.
Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah,
menemukan hal–hal yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan
gagasan–gagasan. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada
siswa. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi
dari teori konstruktivisme adalah bahwa siswa harus menemukan dan
mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan dapat
dijadikan milik mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas
menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses
pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan
aktif dalam proses pembelajaran (Wina Sanjaya : 2006).
Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip–
prinsip konstruktivisme yang diambil adalah :
1)
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara
sosial;
2) Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan kearifan
siswa sendiri untuk bernalar;
3)
Siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan
konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap serta sesuai dengan konsep
ilmiah;
4)
Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi
siswa berjalan mulus. Suparno (1997:49)
b. Inkuiri
Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya,
proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses
berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari
mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Proses menemukan
inilah yang dirangsang secara optimal lewat penerapan strategi pembelajaran
CTL. Karena strategi pembelajaran CTL menekankan keaktifan siswa dalam
menemukan sendiri pengetahuan. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru
bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang hatus dihafal, akan tetapi merancang
pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus
dipahaminya.
Ada beberapa langkah dalam kegiatan menemukan dalam kegiatan
menemukan ( inkuiri ) yang dapat dipraktekkan di kelas
:
1)
Merumuskan
Masalah;
2)
Mengamati
dan melakukan observasi;
3)
Menganalisis
dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan bagan, tabel dan karya lainnya.
4)
Mengkomunikasikannya
atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang
lain. Suparno (1997:50)
c. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab
pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingin- tahuan
setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang
dalam bepikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan
informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan
sendiri. Cara guru memancing siswa untuk bertanya akan dapat tereksplorasi
dengan baik. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui
pertanyaan–pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk
menemukan setiap materi yang di pelajarinya. Dalam pembelajaran yang produktif,
kegiatan bertanya berguna untuk : menggali informasi, baik administrasi maupun
akademis; mengecek pemahaman siswa; membangkitkan respon siswa; mengetahui
sejauhmana keingintahuan siswa; mengetahui hal–hal yang sudah diketahui siswa;
memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang di kehendaki guru; untuk
membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; untuk menyegarkan
kembali pengetahuan siswa. Kegiatan ”bertanya” menjawab permasalahan gaya
pendidikan lama yang menganggap bahwa ”tong kosong nyaring bunyinya” atau
”berbicara adalah perak tetapi diam adalah emas”.
Banyak bertanya sering kali tidak di tanggapi dengan positif
oleh guru maupun teman–teman. Kelas bukan merupakan tempat yang aman untuk
”berbuat kesalahan” dan eksplorasi. Anak kecil dalam kepoloson belajarnya
justru sering kali bertanya banyak hal yang terkadang membingungkan orang tua seperti
” kenapa langit warnanya biru ? bagaimana adik bisa berada di perut ibu ?”.
Sekali lagi seiring perjalanan pendidikan kita, kepolosan dan kekritisan tidak
semakin terasah tetapi justruh sebaliknya. Siswa menjadi malas dan bahkan
apatis terhadap kegiatan belajar yang dirasa sebagai siksaan.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menyatakan
bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang bannyak oleh komunikasi dengan
orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat di pecahkan sendiri, tetapi
mebutuhkan bantuan orang lain. Kerjasama saling memberi dan menerima sangat
dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (learning
community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajarn diperoleh melalui
kerjasama dengan orang lain.
Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik
dalam kelompok belajar secara formal naupun dalam lingkungan yang terjadi
secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang
lain, antar teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang
belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya kepada orang
lain. Inilah hakekat dari masyarakat belajar.
Belajar yang baik adalah bersifat sosial. Satu telaah di Standvord University (Dave Meieer, 2002 : 62) menemukan bahwa bimbingan belajar dari kawan itu empat kali lebih efektif untuk meningkatkan prestasi di bidang matematika dan membaca dibandingkan jika jumlah murid dalam kelas di kurangi atau waktu pengajaran di perpanjang dan jauh lebih efektif dibandingkan dengan instruksi individual dengan komputer.
Belajar yang baik adalah bersifat sosial. Satu telaah di Standvord University (Dave Meieer, 2002 : 62) menemukan bahwa bimbingan belajar dari kawan itu empat kali lebih efektif untuk meningkatkan prestasi di bidang matematika dan membaca dibandingkan jika jumlah murid dalam kelas di kurangi atau waktu pengajaran di perpanjang dan jauh lebih efektif dibandingkan dengan instruksi individual dengan komputer.
Model pembelajaran dengan teknik Learning Community
sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran
terwujud dalam :
1) Pembentukan kelompok kecil;
2) Pembentukan kelompok besar;
3) Mendatangkan ”ahli” ke kelas (tokoh,
olah ragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu
dll);
4) Bekerja dengan kelas sederajat;
5) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya;
6) Bekerja dengan masyarakat.
e. Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses
pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh
setiap siswa. Misalnya : Guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan
sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olah
raga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberikan
contoh bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi memberikan contoh bagaimana
cara menggunakan termometer, dan lain sebagainya.
Proses modeling tidak sebatas dari guru saja, akan tetapi
dapat juga memanfaatkan siswa yang dinggap memiliki kemampuan. Misalnya siswa
yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan
kebolehannya di depan teman–temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap
sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran
CTL, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang
teoretis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru di
pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang suda dilakukan di masa
lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengalaman
yang batu di terima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa “merenung”
kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, mestinya dengan cara
yang baru saya pelajari, sehingga file dalam komputer saya lebih tertata.
Pengetahuan diperoleh melalui proses, pengetahuan dimiliki siswa diperluas
melalui konteks pembelajara yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru
membantu siswa membuat hubungan–hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa merasa memperoleh
sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. Refleksi
menjawab pertanyaan kaum behaviorisme yang memisahkan aspek jasmani manusia
dengan aspek rohaninya. Selama ini siswa menjalani pembelajaran dengan statis
dan tanpa variasi. Jarang sekali mereka diberi kesempatan untuk ”diam sejenak”
dan berpikir tentang apa yang baru saja mereka lakukan atau pelajari. Waktu
amat cepat berlalu, semua terburu–buru dan mungkin memang tidak sempat
melakukannya.
g. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru
pada saat ini, biasanya ditekankan pada aspek intelektual sehingga alat
evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat
diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam CTL,
keberhasilan pembelajaran tidak hannya ditentukan oleh perkembangan kemampuan
intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian
keberhasilan tidak hannya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan
tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata. Penilaian nyata (Authentic
Assessment) adalah prosa yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi
tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini dilakukan
untuk mengetahui apakah siswa benar–benar belajar atau tidak; apakah pengalaman
belajar siswa memiliki pengaruh yang posirif terhadap perkembangan baik
intelektual maupun mental siswa.
Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan
proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus – menerus selama
kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada
prose belajar bukan kepada hasil belajar.
Secara ringkas tujuh pilar CTL dan kelemahan pembelajaran tradisonal dapat disusun dalam tabel berikut :
Secara ringkas tujuh pilar CTL dan kelemahan pembelajaran tradisonal dapat disusun dalam tabel berikut :
Tabel
5
Perbandingan Pendekatan CTL dengan
Pendekatan Tradisional
No.
|
Pilar/Solusi, Indikator Masalah
|
Pendekatan CTL
|
Pendekatan Tradisional
|
1
|
Konstruktivisme
|
Belajar berpusat pada siswa untuk mengkonstruksi bukan
menerima
|
Belajar yang berpusat pada guru, formal, serius
|
2
|
Inquiri
|
Pengetahuan diperoleh dengan menemukan, menyatukan rasa,
karsa dan karya
|
Pengetahuan diperoleh siswa dengan duduk manis, mengingat
seperangkat fakta, memisahkan kegiatan fisik dengan intelektual
|
3
|
Bertanya
|
Belajar merupakan kegiatan produktif, menggali informasi,
menghasilkan pengetahuan dan keputusan
|
Belajar adalah kegiatan konsumtif, menyerap informasi
menghasilkan kebingungan dan kebosanan
|
4
|
Masyarakat Belajar
|
Kerjasama dan maju bersama, saling membantu
|
Individualistis dan persaingan yang melelahkan
|
5
|
Pemodelan
|
Pembelajaran yang Multi ways, mencoba hal – hal
baru, kreatif
|
Pembelajaran yang One way, seragam takut mencoba,
takut salah
|
6
|
Refleksi
|
Pembelajaran yang komprehensif, evaluasi diri
sendiri/internal dan eksternal
|
Pembelajaran yang terkotak – kotak, mengandalkan respon
eksternal/guru
|
7
|
Penilaian Otentik
|
Penilaian proses dan hasil, pengalaman belajar, tes dan
non tes multi aspects
|
Penilaian hasil, paper and pencil test, kognitif
|
3. Peran Guru dan Siswa
Dalam CTL
Konsep belajar aktif sudah dikembangkan oleh Confusius, 2400
tahun yang silam dengan mengemukakan teori sebagai berikut, selanjutnya Mel
Silberman dalam bukunya Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran
Aktif (2002 : 5) mengembangkan pernyataan Confusius Belajar Aktif sebagai
berikut
“ Apa yang saya dengar saya lupa. Apa yang saya lihat
saya ingat sedikit. Apa yang saya dengar, lihat dan diskusikan saya mulai
mengerti. Apa yang saya lihat, dengar, diskusikan dan kerjakan saya dapat
pengetahuan dan ketrampilan. Apa yang saya ajarkan saya kuasai”.
Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar.
Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dinamakan
sebagai unsur modalitas belajar. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap
guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu
menyesuaikan gaya mengajar tehadap gaya belajar siswa. Dalam proses
pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses
pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo
Freire sebagai sistem penindasan.
Kearifan siswa tidak saja dalam menerima informasi tetapi
juga dalam memproses informasi tersebut secara efektif, otak membantu
melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal. Belajar secara
pasif tidak ”hidup”, karena siswa mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa
pertanyaan dan tanpa daya tarik pada hasil, sedangkan secara aktif siswa
dituntut mencari sesuatu sehingga dalam pembelajaran seluruh potensi siswa akan
terlibat secara potensial.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL :
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL :
a)
Siswa
dalam pembelajaran dipandang sebagai individu yang sedang
berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh
tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah
orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sementara berada pada
tahap–tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat
perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah
sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah
pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b)
Siswa
memiliki kecenderungan untuk belajar hal – hal yang baru dan penuh tantangan.
Kegemaran anak adalah mencoba hal – hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh
karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan
yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan – bahan
belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
c)
Belajar
bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal–hal
yang baru dengan hal–hal yang sudah di ketehui. Dengan demikian, peranan guru
adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman
baru dengan pengalaman sebelumnya.
d)
Belajar
bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau
proses pembentukan skema ratu atau (akomodasi), dengan demikian tugas guru
adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi
dan proses akomodasi.
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam
kehidupan mereka sehari–hari. Pendekatan CTL memiliki tujuh asas dalam
pembelajaran diantaranya : Konstruktivisme, inquiri, bertanya, masyarakat
belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sesungguhnya. Satu kelas
dikatakan menggunakan pendekatan CTL, jika menerapkan ketujuh komponen tersebut
dalam pembelajarannya.
Tujuan utama diterapkannya pendekatan Contextual Teaching
and Learning (CTL) dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah
agar peserta didik dapat menghubungkan pelajaran yang mereka pelajari dengan
kondisi nyata mereka sehari–hari. Siswa dengan sadar akan mengerti apa makna
dari belajar tersebut, mereka akan sadar bahwa yang mereka pelajari berguna
bagi kehidupan nanti. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang
dipelajarinya, bukan semata–mata mengetahuinya saja.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diterapkan pada semua mata
pelajaran dan dapat dijalankan tanpa harus merubah kurikulum dan tatanan yang
ada. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) hanyalah sebuah
strategi pembelajaran seperti halnya strategi pembelajaran lain. Pendekatan
kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan
bermakna. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar
melalui ” mengalami ” bukan ” menghafal ”.
4. Prestasi Belajar Siswa
·
Belajar
dan Pembelajaran serta Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang
dapat diamati maupun tidak diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu
latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Rumini, 1995).
Secara umum pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru
sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik
(Darsono, 2000).
Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh
berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi
pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai
pengendali sikap dan perilaku siswa menjadi bertambah, baik kuantitas maupun
kualitasnya.
Menurut Rumini (1995) belajar sebagai proses atau aktivitas
dipengaruhibeberapa faktor yang dapat diklasifikasikan menjadi: faktor yang
berasal dari dalam diri orang yang belajar (internal) dan faktor dari luar
(eksternal).
a. Faktor internal
Faktor internal dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :
1) Faktor psikis, meliputi intelejensi, aurosal, motivasi, dan
kepribadian. Intelejensi, yaitu kemampuan yang bersifat umum dapat abstraksi,
memahami, mengingat, berbahasa untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu
situasi/ masalah. Aurosal, yaitu suatu peningkatan kesiapsiagaan dan ketegangan
otot. Individu agar dapat belajar secara efisien harus dalam keadaan aurosal,
yang artinya harus bangun, sadar, dan memperhatikan lingkungan secara tajam.
Motivasi, yaitu kondisi psikis yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu, yang berarti pula kondisi yang mendorong seseorang untuk belajar.
Kepribadian, dapat mempengaruhi cara belajar siswa yang berpengaruh pula pada
hasil belajar.
2) Faktor fisik, yakni kesehatan yang meliputi kondisi indera,
organ-organ tubuh dan anggota badan.
b. Faktor eksternal
1)
Lingkungan sekitar, meliputi: lingkungan alam, sosial dan social ekonomi.
2) Materi pelajaran.
3) Metode pembelajaran.
·
Sikap
Siswa dalam Pembelajaran
Salah satu aspek yang diinginkan evaluasinya dalam
pelaksanaan kurikulum KTSP adalah ranah afektif. Karakteristik afektif yang
penting meliputi 4 tipe yaitu, sikap, minat, konsep diri dan nilai. Aspek
afektif yang penting untuk dikembangkan adalah minat dan sikap siswa. Sikap
siswa merupakan bagian dari ranah afektif yang dievaluasi untuk mengukur sejauh
mana pembelajaran benar–benar memiliki makna dan berpengaruh terhadap perilaku
siswa.
Thurstone (1946) dalam Tim Peneliti Pasca Sarjana UNY (2004)
menyebutkan bahwa, sikap adalah intensitas positif atau negatif terhadap objek
psikologi. Objek dapat berupa slogan , tindakan, simbol atau ide. Gordon W Al
Port dalam Pangesti (2003) mendefinisikan sikap sebagai kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek dengan cara tertentu. Jika dikaitkan dengan pendidikan, objek
yang berpengaruh terhadap sikap siswa adalah pembelajaran yang dijalaninya.
Terdapat 5 karakteristik sikap menurut Sax dalam Saefudin
(1988), yaitu :
a. Arah
Apabila seseorang dihadapkan pada
suatu objek maka akan timbul dua kecenderungan. Kecenderungan ini menyatakan
arah sikap, yang dapat saja berbentuk positif atau negatif.
b. Intensitas
Intensitas adalah kekuatan atau derajad sikap seseorang terhadap objek.
c. Keluasan
Keluasan sikap adalah keluasan cakupan aspek yang dimiliki oleh objek sikap.
d. Konsistensi
Konsistensi adalah kekuatan yang
sangat positif, dan adanya kecenderungan untuk melaksanakan objek yang
dihadapi.
e. Spontanitas
Spontanitas
adalah sejauh mana seseorang dapat menyatakan sikapnya secara spontan, tanpa
tekanan.
Saefudin (1988) menyebutkan, sikap dibentuk oleh tiga
komponen, yaitu komponen kognitif (gejala pikiran dan pemahaman seseorang
terhadap objek), komponen afektif (perasaan seseorang terhadap objek, dan
komponen konaktif (kecenderungan seseorang untuk berperilaku konsisten terhadap
objek). Interaksi antara ketiga komponen tersebut membentuk sikap seseorang.
Guru yang mampu membentuk suasana pendukung aspek kognitif
siswa dapat membangkitkan sikap positif dari siswanya. Selain memperoleh
pengetahuan, di dalam diri siswa juga akan terbentuk sikap yang berkaitan
dengan pengetahuan yang diperolehnya.
Purwadi dalam Pangesti (2003) menyatakan cara mengukur sikap
seseorang terhadap lingkungannya adalah dengan mengetahui bagaimana seseorang
bertindak bila dihadapkan dengan problema lingkungan tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar